Rabu, 06 Agustus 2008

geng NERO

Anarkisme, apakah akan menjadi budaya baru?

Oleh : a b i

Baru-baru ini media massa banyak mengekspos tentang Geng NERO (Neko-neko dikeroyok, bahasa jawa yang berarti kalo gak sesuai mereka langsung dikeroyok), suatu kumpulan siswi SMA yang ada di Pati, salah satu kota kecil di Jawa Tengah. Namanya terekpose karena geng itu disebut-sebut suka menganiaya remaja putri tanpa alasan jelas. Parahnya, penganiayaan tersebut mereka rekam lewat video telepon seluler (ponsel), kemudian disebarkan. Dalam sebuah rekaman video ponsel terlihat sekelompok remaja putri anggota Geng Nero menampar korbannya berulang-ulang. Dari latar belakang rekaman itu, diduga penganiayaan dilakukan di sebuah gang.

Bukan itu saja. Cukup banyak tindak anarkis yang dilakukan oleh berbagai kelompok, seperti : pendukung calon pilkada yang kalah, tawuran antar kelompok masyarakat, demo buruh, bahkan mahasiswa, yang merupakan calon pemimpin dan kelompok intelektual pun melakukan tindak anarki baik ketika berdemo atau bahkan tawuran antar fakultas, karena alasan yang sepele.
Perlu menjadi suatu renungan, apakah tindak anarki yang meningkat ini merupakan akibat banyaknya acara televisi yang menayangkan kekerasan, bahkan film kartun yang menjadi konsumsi anak-anak seperti Naruto pun berisi tindak kekerasan. Belum lagi sinetron-sinetron baik yang dikhususkan untuk anak-anak, remaja bahkan orang dewasa pun penuh dengan adegan anarki, kekerasan, kelicikan, dan kemewahan. Sinetron yang notabene hampir tak pernah absen dari ruang keluarga kita di setiap harinya dari pagi buta sampai menjelang pagi, tayangannya sering kali berseberangan dengan nilai agama dan juga adat ketimuran kita.
Semua tindak anarki ini, mungkin merupakan kegagalan keluarga dan pihak sekolah dalam menanamkan budi pekerti dan akhlak, sekaligus merupakan bukti nyata keberhasilan TV kita dalam menanamkan kebencian?


0 Comments:

blogger templates | Make Money Online